Back to all stories
2 minutes read

Nestlé Indonesia telah menjalin kemitraan dengan para petani kakao di Sulawesi Barat sejak 2011, dimulai dengan peluncuran program Nestlé Cocoa Plan di Indonesia. Program tersebut kini telah menjangkau lebih dari 6.000 petani kakao dan membantu terbentuknya 171 kelompok petani serta 34 perkebunan contoh. Sebagian besar dari para petani kakao ini tinggal di Desa Guliling, Kabupaten Mamuju, sebuah area yang mengalami kelangkaan air bersih.

Sekitar 41% dari 1.039 penduduk di Desa Guliling merupakan petani kakao yang bergantung pada mata air alami dan sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari keluarga mereka. Untuk dapat mengakses mata air atau sungai tersebut, dibutuhkan upaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Mereka harus melewati area berbukit sepanjang dua kilometer, yang biasanya mereka tempuh dengan berjalan kaki selama lebih dari 30 menit. Setelah itu, mereka masih harus menyaring dan mendidihkan air yang telah mereka dapatkan untuk memastikan bahwa air tersebut aman untuk digunakan.

Untuk membantu mengatasi permasalahan ini, Nestlé Indonesia mengembangkan sebuah sistem manajemen air berbasis masyarakat di Desa Guliling. Metode ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dengan kapasitas teknis dan manajerial, tata kelola proyek serta manajemen keuangan, agar mereka dapat menjalankan dan memelihara secara mandiri fasilitas air bersih yang telah dibangun nantinya. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lokal ditunjuk untuk mendampingi masyarakat desa di sepanjang keterlibatan mereka, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, implementasi hingga serah terima proyek. Metode ini memastikan bahwa masyarakat yang terlibat dibekali dengan pengetahuan yang memadai, serta membantu menumbuhkan rasa kepemilikan yang tinggi atas proyek tersebut.

Sebelum proyek ini berjalan, sebanyak 291 keluarga di Desa Guliling kesulitan untuk mengakses air bersih. Kini, 237 keluarga telah dapat menikmati air bersih dengan akses langsung di dalam rumah mereka. Pengembangan sistem manajemen air ini juga memungkinkan masyarakat desa untuk mendapatkan air bersih tanpa perlu berjalan jauh ke mata air atau sungai, dengan biaya bulanan yang terjangkau dan telah disepakati oleh semua pihak. Selain itu, perangkat desa juga memberikan dukungan mereka dengan memasukkan upaya perawatan fasilitas air bersih ke dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertugas menangani sumber daya air.