Back to all stories
2 minutes read

Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dari sektor perkebunan. Masyarakat Indonesia umumnya lebih mengenal biji cokelat daripada biji kakao.

Tanaman kakao awalnya ditemukan di negara-negara Amerika Selatan. Carl Linnaeus asal Swedia adalah ilmuwan yang memberikan nama Theobroma cacao bagi tanaman ini. Tanaman kakao dapat tumbuh di wilayah beriklim tropis serta dataran yang terletak di ketinggian 0-700 meter di atas permukaan laut.

Indonesia sebagai negara beriklim tropis merupakan daerah yang sesuai untuk budi daya tanaman kakao. Sulawesi merupakan daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia, yang bahkan masih dapat ditingkatkan lagi pencapaiannya mengingat masih banyaknya lahan yang belum diolah ataupun perkebunan dengan tanaman yang sudah berusia cukup tua dan memerlukan peremajaan.

Biji kakao, setelah melalui proses pengolahan, akan menghasilkan massa, minyak dan bubuk kakao. Ketiga hasil pengolahan biji kakao tersebut merupakan bahan baku utama yang diperlukan untuk memproduksi beragam produk cokelat. Nestlé di Indonesia juga menggunakan produk olahan kakao untuk menghasilkan produk-produk seperti MILO, KITKAT dan CRUNCH.

Pada 2009, Nestlé secara global meluncurkan program The Cocoa Plan untuk membantu para petani kakao meningkatkan hasil tani mereka dan memastikan pasokan bahan baku secara berkelanjutan. Komitmen Nestlé akan kesejahteraan hidup para petani kakao dan keberlanjutan produksi biji kakao yang bermutu merupakan inti dari pelaksanaan program ini.

Pada 2011, setelah diadakannya World Economic Forum South Asia di Jakarta, Nestlé meluncurkan program global The Cocoa Plan ini di Indonesia. Selain dengan para petani kakao, kemitraan yang bersifat public-private partnership ini dijalin dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan berbagai pihak yang terdapat dalam mata rantai industri kakao di Indonesia.

Dukungan Nestlé bagi industri kakao di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, melalui transfer pengetahuan teknik Somatic Embryogenesis kepada PUSLITKOKA (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) untuk mempercepat proses untuk menghasilkan bibit-bibit unggul kakao. Usaha ini diteruskan melalui program The Cocoa Plan, di mana Nestlé berupaya untuk meningkatan produktivitas dan kualitas biji kakao yang dihasilkan oleh para petani demi meningkatkan kesejahteraan para petani kakao Indonesia.

Nestlé percaya bahwa sebuah usaha hanya akan dapat berkembang secara berkelanjutan apabila pasokan bahan baku yang berkualitas juga terjamin untuk jangka panjang. Oleh karena itu, Nestlé mendukung perkebunan kakao rakyat agar menjadi usaha yang menguntungkan. Profitable farming dapat dicapai apabila para petani menggunakan bahan tanam yang baik, menerapkan praktik budi daya yang baik, berada dalam mata rantai perdagangan yang kompetitif; serta menghargai kualitas. Program kemitraan Nestlé dengan para petani kakao mencakup dukungan dan pendampingan terkait seluruh elemen tersebut.