Nestlé Berkomitmen Untuk Bantu Tangani Status Gizi Buruk di NTT Melalui Program Edukasi Gizi

To Press Releases listKupang,Sep 29, 2014

Nestlé berkomitmen untuk bantu tangani status gizi buruk di NTT melalui program edukasi gizi

Kupang, 29 September 2014 – Permasalahan gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong Nestlé untuk turut membantu penanganan isu melalui kerja sama dengan pemerintah setempat. Inisiatif ini merupakan respon dari kunjungan Gubernur NTT ke kantor pusat Nestlé di Jakarta pada Agustus 2014 lalu.

“Sejalan dengan misi Nestlé untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, kami berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif kepada pemerintah provinsi NTT dalam meningkatkan status gizi di daerahnya melalui beberapa program pendidikan gizi yang akan dilakukan bersama para mitra, seperti program pendidikan bagi para tenaga kesehatan dan kader Posyandu, serta program Nestlé Healthy Kids,” ujar Arshad Chaudhry Presiden Direktur Nestlé Indonesia dalam kunjungannya ke NTT untuk bertemu dengan Gubernur Drs. Frans Lebu Raya akhir pekan lalu.

Kondisi gizi buruk di provinsi NTT telah mencapai pada tingkat yang memprihatinkan dan membutuhkan penanganan serius. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mengungkapkan bahwa NTT merupakan provinsi dengan prevalensi tertinggi untuk gizi buruk balita (>30%) dan stunting (>50%) di Indonesia.

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), satu dari 20 balita di NTT meninggal dunia akibat gizi buruk,” ujar Drs. Frans Lebu Raya. “Beban sosial-ekonomi rumah tangga di NTT menjadi penyebab rendahnya pengetahuan akan pentingnya asupan gizi baik. Hal ini diperburuk dengan keterbatasan informasi masyarakat, dimana lebih dari 40% rumah tangga tidak mengetahui akan keberadaan fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas dan Posyandu,” lanjutnya.

“Kami menyambut baik inisiatif dari Nestlé ini. Saya percaya bahwa masalah gizi buruk yang sudah menjadi tantangan kami sejak dulu dapat diselesaikan dengan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, lembaga-lembaga masyarakat, serta pihak swasta,” ujar Drs. Frans Lebu Raya.

Melalui berbagai macam program, Nestlé memberikan pengetahuan tentang gizi, gaya hidup sehat, serta pentingnya berolah raga kepada masyarakat. “Kami memiliki program yang dinamakan Nestlé Healthy Kids, atau NHK, di mana kami mengajak berbagai elemen sekolah dasar seperti guru, kepala sekolah dan juga orang tua murid, untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka akan pentingnya gizi seimbang, kebersihan diri dan aktivitas fisik,” papar Arshad Chaudhry. Sejak pertama dimulai tahun 2010, program NHKkini telah berhasil menjangkau hampir 22.000 murid sekolah dasar dan 1.349 guru di 57 sekolah dasar di 13 provinsi di Indonesia.

Sejak 2012, Nestlé juga telah melakukan Gerakan PosyanduTumbuh-Aktif-Tanggap (TAT) yang bertujuan untuk merevitalisasi dan meningkatkan kualitas Posyanduse-Indonesia. Melalui program Posyandu TAT, Nestlé bekerja sama dengan tim Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pusat, memberikan pelatihan kepada para kader Posyandumengenai cara memantau tumbuh kembang anak yang optimal. Hingga tahun 2013, rangkaian program Gerakan Posyandu TAT telah menjangkau lebih dari 21.500 kader di lebih dari 4.900 Posyandupada 19 provinsi dan 72 kabupaten/kota di Indonesia, serta melibatkan lebih dari 410.000 ibu.

“Nestlé Healthy Kids dan Posyandu Tumbuh-Aktif-Tanggap merupakan bagian dari kegiatan Creating Shared Value atau Menciptakan Manfaat Bersama kami. Di Nestlé, kami percaya bahwa agar perusahaan dapat sukses dalam jangka panjang dan menciptakan manfaat untuk para pemegang saham, perusahaan juga perlu menciptakan manfaat kepada masyarakat,” ujar Arshad Chaudhry.

“Sebagai tahap awal, rencana kami adalah untuk mengimplementasikan kedua program tersebut guna membantu menangani gizi buruk di NTT. Kami berharap akan semakin banyak orang tua serta guru, sebagai wakil orang tua di sekolah, yang paham mengenai cara pemenuhan gizi baik dan semakin tinggi aksesibilitas masyarakat terhadap layanan kesehatan seperti Posyandu,” jelas Arshad Chaudhry.

“Namun, kami juga tidak menutup kemungkinan akan diselenggarakannya kerja sama untuk program pemberdayaan masyarakat lainnya, guna membantu pemerintah provinsi Posyandu dalam meningkatkan status gizi dan pembangunan masyarakat di Posyandu,” tutupnya.



Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Nur Shilla Christianto
Head of Corporate Communication
PT Nestlé Indonesia
Tel: +6221 7883 6000 ext. 1510, Fax: +6221 7883 6054
email: nestle.indonesia@id.nestle.com