Saluran Cerna Sehat, Bekal Anak Cerdas

To Press Releases listJakarta,Mar 16, 2015

Pahami Gut-Brain Axis, Komunikasi antara Otak dan Saluran Cerna untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Saluran cerna merupakan organ imunitas terbesar dan memiliki berbagai fungsi, termasuk di antaranya untuk mengolah gizi, berperan penting pada pertumbuhan otak dan penunjang tumbuh kembang anak. Namun faktanya, banyak orang tua masih menganggap bahwa saluran cerna hanya berfungsi sebagai organ utama dalam penyerapan nutrisi. Padahal saluran cerna yang sehat merupakan salah satu kunci penting yang menentukan kualitas pertumbuhan seorang anak. Hal ini menjadi perhatian dan latar belakang diselenggarakannya acara bincang-bincang bertajuk 'Saluran Cerna Sehat, Bekal Anak Cerdas' hari ini bersama lima pakar kesehatan yang tergabung dalam Happy Tummy Council.

Terkait hubungan saluran cerna yang sehat dan pertumbuhan otak, salah satu pakar yang tergabung dalam Happy Tummy Council DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) mengungkapkan sebuah konsep yang disebut Gut-Brain Axis, di mana saluran cerna dan otak secara aktif melakukan komunikasi dua arah. “Saluran cerna yang sehat mengirimkan sinyal positif sehingga dapat mempengaruhi perkembangan otak. Begitu pula sebaliknya, sinyal yang dikirimkan otak akan mempengaruhi komposisi mikrobiota yang terdapat dalam saluran cerna sehingga berdampak pada proses penyerapan nutrisi. Inilah mengapa saluran cerna dianggap seperti ‘otak kedua’,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Happy Tummy Council juga merilis modul pendidikan edisi ketiga bagi tenaga kesehatan, di mana tahun ini modul dilengkapi dengan berbagai tips praktis bagi para orang tua. Tips-tips praktis tersebut mencakup informasi seputar kesehatan saluran pencernaan anak, termasuk bagaimana orang tua dapat mengidentifikasi dan menghadapi gangguan pencernaan pada anak.

Menurut Prof. Dr. M. Juffrie SpA(K), Ph.D gangguan pencernaan yang umumnya dialami anak adalah kolik. “Kolik yang disertai dengan kegagalan tumbuh pada anak harus segera mendapatkan pertolongan dari petugas medis. Setiap orang tua diharapkan dapat lebih memahami gejala-gejala dari gangguan sistem pencernaan anak tersebut, sehingga dapat segera diatasi dan tidak mengganggu kemampuan intelektual dan kognitif anak di kemudian hari,” ujar dr. Juffrie.

Anak juga perlu memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga tidak terjadi kolik dan gangguan pencernaan lainnya. Dijelaskan oleh Prof. DR. Dr. Soebijanto Marto Sudarmo, SpA(K), “80% sistem imunitas tubuh ada di dalam saluran cerna. Karenanya sangat penting untuk memastikan kesehatan saluran cerna agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, tidak mudah sakit dan menjadi lebih aktif.”

Pada usia bayi, sistem pencernaan belum berfungsi secara optimal sehingga mereka rentan dengan gangguan pencernaan. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, penyakit karena gangguan saluran pencernaan masih menjadi penyebab terbesar (35,9%) kematian anak usia 0-59 bulan di Indonesia.

Untuk menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan anak, intervensi gizi adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan. Pakar gizi medik DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc menjelaskan bahwa ASI merupakan nutrisi terbaik untuk bayi. “Daya tahan tubuh yang optimal bisa diperoleh dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan pemberian ASI diteruskan hingga usia 2 tahun.” ASI mengandung probiotik yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Salah satu jenis probiotik yang terkandung di dalam ASI adalah Lactobacillus reuteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. reuteri terbukti mampu mendukung kesehatan saluran cerna. Dengan saluran cerna sehat, anak akan menyerap gizi dengan baik dan memiliki tumbuh kembang optimal.

Sementara itu, Rini Hildayani MSi. Psychologist juga mengungkapkan bahwa ikatan emosional antara orang tua dan anak turut mempengaruhi tumbuh kembang anak. Hal ini antara lain bisa didapatkan dengan menyediakan waktu yang berkualitas, komunikasi yang lebih sering, penghargaan atas ekspresi dan emosi anak, serta memberikan rasa aman dan kepercayaan pada anak. “Orang tua diharapkan dapat bersikap sensitif, responsif, dan konsisten agar saat makan anak mendapatkan asupan gizi yang tepat tanpa merasa stres,” tambahnya.

Pada akhirnya, asupan nutrisi yang tepat, kondisi psikologis yang mendukung, serta saluran cerna yang sehat akan menghasilkan sosok happy kids yang berkembang secara optimal. Happy Tummy, Happy Kids.


Tentang Happy Tummy Council

Happy Tummy Council terdiri dari lima pakar kesehatan di bidang kedokteran dan kesehatan psikologi anak yang memiliki perhatian terhadap kesehatan pencernaan, yaitu Prof. Dr. M. Juffrie, SpA(K), Ph.D; Prof. DR. Dr. Soebijanto Marto Sudarmo, SpA(K); DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K); DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc dan Rini Hildayani MSi. Psychologist. Happy Tummy Council memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, khususnya para tenaga kesehatan dan orang tua, mengenai pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang yang optimal.

Pada 2013, Happy Tummy Council mengeluarkan modul pendidikan versi pertama untuk para bidan dan tenaga kesehatan tentang kesehatan saluran cerna. Hingga saat ini, modul ini telah disampaikan ke 20.000 bidan di seluruh Indonesia melalui program KARTINI dari Nestlé Indonesia.



Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Nur Shilla Christianto
Head of Corporate Communication
PT Nestlé Indonesia
email: nestle.indonesia@id.nestle.com