Sort by
Sort by

The NESCAFÉ Plan – Di Balik Secangkir NESCAFÉ

NESCAFÉ Berikan 18 000 000 Tanaman Bibit Kopi

  • Sebagai wilayah pengekspor kopi terbesar di Indonesia, Lampung dihadapkan kepada permasalahan produktivitas dan kualitas kopi akibat banyaknya tanaman kopi yang sudah berusia tua, sehingga kurang produktivitasnya. Oleh karena itu, sebagai bentuk kepedulian dan komitmen kemitraan yang berkesinambungan dengan para petani kopi Lampung, NESCAFÉ di bawah payung THE NESCAFÉ Plan memberikan 18 000 000 tanaman bibit kopi berkualitas untuk meremajakan kembali perkebunan kopi petani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
  • Melalui kampanye The NESCAFÉ Plan – Di Balik Secangkir NESCAFÉ, Nestlé mengundang khalayak ramai untuk bersama-sama mendukung para petani kopi melalui Facebook NESCAFÉ dan ikut ambil bagian dalam mengatasi permasalahan banyaknya tanaman kopi yang telah berusia tua di Lampung.
  • Pemberian tanaman bibit kopi berkualitas serta kampanye ‘Di Balik Secangkir NESCAFÉ’ merupakan bagian dari Creating Shared Value (CSV) Nestlé. Di samping itu, sejak tahun 1994 Nestlé telah menjalin kemitraan berkelanjutan dengan 12 000 petani kopi di Tanggamus, Lampung melalui program pembinaan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kopi Lampung.

Lampung, 27 Juni 2013 – Sebagai produsen kopi robusta terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam, industri kopi di Indonesia merupakan industri vital yang menopang lebih dari 1,4 juta petani serta salah satu penyumbang pemasukan devisa negara andalan. Namun, perkebunan kopi di Lampung dihadapkan kepada permasalahan menurunnya produktivitas dan kualitas kopi akibat banyaknya tanaman kopi yang sudah berusia tua. “Penelitian kami mengungkapkan bahwa di daerah Sumatera, 50% dari tanaman kopi yang ada sudah berusia 20 sampai 25 tahun. Hal ini telah menyebabkan terpengaruhnya / menurunnya produktivitas yang juga mempengaruhi kualitas biji kopi yang dihasilkan,” ujar Ucu Sumirat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA).

Menyikapi permasalahan ini, NESCAFÉ yang menggunakan 100 persen biji kopi Indonesia yang dibeli langsung dari 12 000 petani kopi di Lampung tergerak untuk memberikan 18 000 000 tanaman bibit kopi berkualitas dengan nilai total sebesar US$ 12 juta, untuk meremajakan kembali perkebunan kopi petani hingga tahun 2020 agar kesejahteraan para petani terus terlindungi.

“Pemberian sejumlah bibit tanaman kopi ini termasuk dalam program ‘The NESCAFÉ Plan’, sebuah inisiatif global yang dimulai pada tahun 2010 untuk mendukung pola bercocok tanam, produksi serta konsumsi yang bertanggung jawab,” ujar Arshad Chaudhry, Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia.

“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen kami untuk mempertahankan Provinsi Lampung sebagai penghasil kopi Robusta berkualitas tinggi terbesar di Indonesia. Di Nestlé, kami mempunyai komitmen penuh untuk melakukan pembangungan berkelanjutan dengan membantu para petani untuk meningkatkan produktivitas kebun kopinya dan kualitas biji kopi yang dihasilkannya, sehingga kami dapat membantu memperkuat keamanan pangan nasional, dan pada saat yang bersamaan meningkatkan kondisi sosio ekonomi para petani, dan karenanya membantu memastikan keberlanjutan lingkungan dan pengembangan kopi yang berkelanjutan, yang merupakan program yang sangat penting di Indonesia. Kami percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam jangka panjang kami harus menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat dan, dalam konteks ini, NESCAFÉ berupaya mengembangkan produksi kopi yang berkelanjutan di Lampung serta meningkatkan kesejahteraan para petani melalui kemitraan berkesinambungan. Di Nestlé kami menyebutnya Creating Shared Value atau CSV – cara kami menjalankan bisnis,” lanjut Arshad Chaudhry.

Semenjak tahun 1994, NESCAFÉ telah menjalin kemitraan dengan petani kopi di Lampung melalui serangkaian program pembinaan cara bercocok tanam yang baik dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi, dan pada saat bersamaan menanamkan kepada mereka akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Inisiatif ini dimulai dengan dibentuknya sebuah tim yang berdedikasi penuh yaitu Departemen AgriService yang mengenalkan praktik-praktik bercocok tanam yang baik termasuk teknik-teknik dalam hal pengelolaan panen dan pasca panen. Para petani juga diberikan pelatihan untuk mengevaluasi kualitas produk sehingga mereka dapat menikmati keuntungan dari biji kopi berkualitas tinggi yang beredar di pasar.